Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat merubah dunia. Berikan aku 1.000 orang tua niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya dan berikan aku 10 pemuda maka akan aku goncangkan dunia. Sepenggal untaian kata dari sang inspirator bangsa Ir.Soekarno yang menjadi pendobrak dan pemacu semangatku sebagai generasi emas penerus bangsa tuk mengawali sebuah mimpi membangun dan memajukan negeri.
Generasi muda adalah generasi penentu nasib dan kemajuan bangsa.. Saya bersama Nafis yang baru bergabung di Kelas Mimpi Gemilang Indonesia, Jakarta memiliki tekad kuat untuk memberikan motivasi kepada anak-anak kaum dhuafa yang mayoritas berprofesi sebagai pemulung di Kecamatan Pasar Minggu untuk mempunyai mimpi dan cita-cita untuk masa depan mereka.
Teriknya sinar mentari diiringi hembusan angin berdebu kota menemani hari-hari mereka, anak-anak yang berjuang untuk membantu kedua orang tuanya. Mereka bersama orang tuanya bergerak untuk memulung di pagi hari. Sebagian besar dari mereka tidak bersekolah , ada pula yang bersekolah pada siang harinya. Buat saya pribadi, saya melihat sosok pahlawan pada diri mereka . Mereka, anak-anak yang rela meninggalkan bangku sekolahnya untuk membantu perekonomian keluarga .
Zaelani atau biasa dipanggil Njay,
bocah dari Jawa Tengah ini merupakan salah satu gambaran pahlawan kecil di
Indonesia. Saat anak-anak seusianya sibuk sekolah, bermain, dan dipenuhi
kasih sayang orang tua, Njay harus ikut memulung bersama ayahnya. Ia terpaksa berhenti sekolah dan menjadi pemulung demi
menghidupi ketiga adiknya. Cita-cita besarnya adalah menjadi pemain sepak bolaa .
Dari memulung Njay mendapatkan penghasilan sekitar 20.000 rupiah sehari. Kira-kira dicukupkan untuk makan selama 2 hari.
Makanannya sehari-hari pun hanya nasi dengan kerupuk atau garam. Untuk
sekedar makan mie instan pun sangat sulit, menunggu ada rezeki
lebih. Dengan upah seadanya itu, ia masih menyisihkan sedikit uang untuk
adik-adiknya jajan lho.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar